[SHARING] Pacarku PDP - Indonesia New Normal

By Sharon Yuniarti - June 16, 2020

Hi everyone!
Welcome back yes~

Bagaimana kabar kalian?
Aku berharap kalian dalam keadaan sehat selalu. 
Sejak akhir bulan Maret keadaan Indonesia, bahkan seluruh Dunia sangat tidak sehat. Pandemi covid-19 benar-benar sangat merubah aspek kehidupan semua kalangan di Dunia.
Informasi singkat covid-19 (Virus Corona) menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Wabah virus corona tersebut pertama kali muncul di kota Wuhan, Tiongkok pada Desember 2019 dan menyebar ke negara lainnya. Penyebaran virus ini sangat cepat. Siapapun dapat terinfeksi virus ini, apabila memiliki kekebalan tubuh yang lemah(Sumber: Halodoc).

Untuk pertama kalinya:
- Kaum rebahan adalah pemenang dalam menghadapi pandemi covid-19
- Bandara, Mall, Bioskop, Cafe dan beberapa tempat hiburan lainnya ditutup
- Banyak perusahaan ditutup sementara
- Sekolah ditiadakan dan tetap belajar dirumah
- Tempat ibadah ditutup dan semua kegiatan ibadah dilakukan di rumah aja,
dan beberapa kegiatan lainnya yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya

Apakah kamu punya pengalaman yang tidak akan terlupakan dimasa pandemi covid-19 ini? 
Misalnya: diberhentikan kerja, pernikahan diundur/bahkan tetap berlanjut tapi dengan protokol yang sudah ditetapkan, terkena virus corona, ditinggalkan orang tersayang atau hal lainnya
Boleh dong sharing di kolom komentar ya..

Nah kalo aku sendiri punya cerita.
Jadi sekitar tanggal 15 Maret 2020, pacar aku (sebut aja Abang) merasa demam, batuk dan flu. Tapi seminggu kemudian (22 Maret 2020) baru dibawa ke RS dan diperiksa. Semua keluhannya disampaikan ke dokter, dan dokter berasumsi gejala tersebut disebabkan karena adanya virus. Makanya langsung deh tuh diambil darah dan rontgen. Hasil rontgen pun menunjukan adanya virus/bakteri di paru-parunya, tapi detailnya tidak tau apa dan harus menunggu keadaannya dalam beberapa hari lagi. Dokter pun informasi kalo saat itu, Abang sudah masuk kategori pasien dalam pengawasan (PDP). Dan informasi dari RS, akan ada pihak dinas kesehatan / puskesmas setempat yang akan hubungi abang langsung.
Perbedaan ODP, PDP, dan Suspek pada Virus Corona Covid-19 ...

Dapet informasi tersebut jelas bikin pikiran Abang tidak tenang.
Lokasi kita yang jauh, membuat aku juga gak bisa banyak berbuat apa-apa. Rumah aku di Bogor, sedangkan abang ngekost di Jakarta Barat.
Aku cuma bisa bantu doain dia, dan sering komunikasi call/video. Tujuannya ya biar pikirannya gak diganggu hal-hal negatif.
 3 hari kemudian keadaannya masih belum membaik. Panasnya masih tinggi, batuk dan flunya tetap ada, dan ditambah mual dan sesak nafas. Akhirnya abang coba tlpn RS dan tanya mengenai orang puskesmas yang mau cek kondisinya. 
Singkat cerita, keesokan harinya 3 orang dinkes datang ke kostan abang pakai seragam dinkes untuk cek kesehatan dan test swab. Awalnya abang sempat bernego agar di test swabnya di rumah sakit saja, alasannya ya karena gak mau sampai bikin panik orang sekitar kost. Tapi ya orang dinkes tetap menyarankan untuk ke kostan saja. Ya sudah ikuti saja prosesnya. 
Ketika proses swab selesai dilakukan, orang dinkes keluar dari kamar kost dan dilihat oleh penjaga kost. Seketika ya langsung aja kepo deh itu ibu kost, dan orang dinkes hanya menginformasikan ini pemeriksaan kesehatan saja.
Selama hari itu, gak ada pikiran aneh-aneh. Tapi sampai kebesokannya, ibu kost datang menghampiri abang dan berbicara. 
"Mas sakit yah? warga dan beberapa anak kost lainnya khawatir nih. Bisa tolong pindah kostan hari ini juga yah. Sisa uang kost nanti saya kembalikan."
Dari pernyataan tersebut jelas bikin abang panik, kesel, campur aduk deh perasaan dan pikirannya. Aku juga coba untuk hubungi orang dinkes untuk coba bicarakan langsung dengan RT setempat / ibu kost. Tapi tetap, ibu kost berpegang teguh pada pendiriannya untuk mengusir abang secara halus.
Dikira cari kostan semudah itu apa? 
Gila! Gak ada rasa kemanusiaannya. 
Aku juga bilang sama orangtua aku, kalo abang di usir, dan mereka bantu menyarikan beberapa kenalan yang punya kostan. Salah satunya adalah tempat kost dari keluarga yang kita kenal di Gereja. 
Nah! Dikarenakan beberapa orang di Gereja juga kenal dan tau status abang adalah PDP. Jadilah mereka pun menolak secara halus.
Bahkan, aku sempat tidak dijadwalkan melayani di Ibadah Online karena stigma orang tersebut. 
Ya begitulah pahitnya dunia, dimana kita gak bisa berharap sama manusia.
 Singkat cerita lagi, abang langsung pindah kostan hari itu juga. Dan 2 minggu kemudian hasil test swabnya keluar dan dinyatakan negatif virus corona. Puji Tuhan sampai saat ini aku dan abang juga sehat.
Dari kejadian ini sih, cuma mau share bahwa kepanikan orang Indonesia bikin kesel. Hahahaha

Justru yang bahaya bukan virusnya, tapi stigma orang disekitar kita.
Seharusnya tidak perlu panik berlebihan untuk menghadapi pandemi ini. Cukup mengikuti setiap protokol yang ada, dan seharusnya setiap pemimpin daerah memberikan informasi detail kepada warga tentang menghadapi dan berjuang melawan virus corona tersebut. 
Apalagi saat ini masuk fase new normal, perlahan semua aktifitas akan bisa berjalan normal kembali. 
Terpaksa Berkendara Keluar Rumah Saat WFH, Perhatikan 10 Hal Berikut!
Seperti yang kita ketahui juga ada beberapa peraturan yang perlu diperhatikan ketika beraktifitas di luar rumah, seperti: 
1. Menjaga jarak (min 1 meter)
2. Seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
3. Pakailah masker ketika diluar rumah
4. Janganlah keluar apabila merasa tidak enak badan
5. Jika dari luar rumah, segeralah untuk membersihkan diri ketika sampai rumah
6. Perhatikan juga untuk etika batuk dan bersin
Etika Batuk dan Bersin Agar Tak Sebarkan Virus

Aku masih sering menemukan warga Indonesia untuk batuk/bersin/bahkan membuang ludah sembarangan. Janganlah takut untuk menegur atau memberitahu ketika ada orang yang ber-etika tidak baik.

 Point penting untuk menghadapi pandemi ini. Jangan lupa untuk makanan bergizi, minum vitamin dan istirahat yang cukup. Usahakan untuk tidak keluar rumah, jika tidak penting.
Harus tetap berpikir positif dan lebih mempunyai hubungan kepada Tuhan. 
Tidak perlu panik ya teman-teman 

Sudahlah, segini aja sharing aku kali ini. 
Sekarang waktunya kamu untuk berbagi pendapat seputar Indonesia yang memasuki masa new normal.
Bagaimana cara kalian bertahan menghadapi pandemi ini ? 

Terima kasih untuk kamu yang sudah mampir dan membaca postingan ini
 Jangan lupa untuk tinggalkan jejak dengan komentar ya.

Hatur Nuhun
Thank you
😍😘😎

  • Share:

You Might Also Like

4 komentar

  1. Pacarku juga kak..untungnyaa dia negatif hasil test nya hufff.. berasa ada temennya hehe! Nice blogggg 🤎🤎

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Alicia..
      Terima kasih sudah mampir dan baca postingan ini..
      .
      .
      Wah.. pernah diposisi yang saa toh.. semoga sehat terus yah dan langgeng kalian 😁🥰

      Delete
  2. betul ya, Mbak. Yang meresahkan adalah stigma masyarakat ya.
    Padahal jika mereka ada di posisi tersebut pasti juga akan merasakan hal yang sama. Memurutku, yang harus kita belajar adalah, empati ya, Mbak. Merasakan apa yang orang lain rasakan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mba Arsita,
      Terima kasih sudah blogwalking..
      Betul banget, harus punya pemikiran "merasakan apa yang orang lain rasakan"..

      Sehat terus ya mba

      Delete

Thank you for reading :)
Silahkan berikan komentar kalian setelah membaca postingan ini! (Tidak mengandung unsur SARA)
No SPAM!